[PIKIR] Sudahkah Bangsa Indonesia Berdaulat Pangan?
By: Date: November 16, 2018 Categories: Uncategorized

Penulis: David Ardes Setiady

1http://www.Spi.Or.Id/wp-content/uploads/2011/10/Aksi-Pemuda-Peduli-Pangan3.Jpg

Menyambut peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yg ke-69, sebuah pertanyaan yang selalu relevan untuk ditanyakan adalah ?Sudahkah kita merdeka??. Pertanyaan tadi merupakan upaya pemaknaan yang dibutuhkan agar kita membangun kesadaran kritis tentang syarat negeri ini. Bagaimanakah perkembangan kehidupan bangsa ini setelah mendeklarasikan kemerdekaannya tahun 1945 silam? Mimpi para pendiri bangsa ini merupakan menyaksikan rakyatnya berdaulat, mandiri pada mengelola kehidupannya. Di sini, pertanyaannya bisa diganti menjadi ?Sudahkah bangsa ini sebagai berdikari??.

Kemandirian bangsa ini, bukan dilema administratif semata, melainkan segala aspek kehidupan, terutama hal-hal mendasar yang diharapkan bagi penyelenggaraan kehidupan. Di antaranya merupakan masalah pangan, yang kian hari kian mengkhawatirkan. Krisis pangan yang mulai mendera bangsa ini, sebagai sebuah indikasi tanya besar karena tanah nusantara sesungguhnya tanah yang kaya & berlimpah. Persoalan kekeringan yg ditimbulkan sang tidak menentunya syarat cuaca, sering dituding menjadi penyebab utama terjadinya krisis pangan. Sementara problem teknis pertanian, yakni ketergantungan pupuk dan bibit adalah penyebab lain yang menegaskan adanya krisis pangan. Hal lain terkait pangan yg cukup mengkhawatirkan adalah pola makan rakyat Indonesia ketika ini, yg cenderung menggunakan bahan sintetis/kimiawi dimana efek terhadap kesehatan tubuh sangatlah berbahaya pada jangka panjang. Sementara penggunaan bahan sintetis tersebut mulai mengarah pada ketergantungan di taraf rumah tangga. Belum lagi, serbuan makanan instan menggunakan kandungan bahan sintetis yg menyebar melalui pasar swalayan ataupun warung-warung mini . Kesemuaannya itu perlu kita lihat satu per satu menjadi sebuah upaya buat menjawab ?Sudahkah kita mandiri??, khususnya di bidang pangan.

Krisis Pangan, Kesalahan Pengelolaan?

Cukup mudah mendeteksi gejala krisis pangan yang mulai melanda Indonesia, keliru satunya adalah melihat tingginya nomor impor yang dilakukan sang bangsa ini, baik melalui pemerintah maupun para pengusaha impor. Yang mengkhawatirkan merupakan jumlah impor yg tinggi juga terjadi dalam bahan pangan, yg sebetulnya sanggup didapatkan oleh huma di Indonesia. Bahan-bahan seperti beras, jagung, kedelai, bawang, bahkan garam dan gula hanyalah segelintir bahan yang diimpor berdasarkan luar negeri. Periode Januari ? November 2013, data BPS mencatat nilai impor Indonesia mencapai US$ 8,1 miliar dengan volume mencapai 17 miliar kilogram. Angka ini sebetulnya termasuk tinggi buat negara yang mengklaim dirinya sebagai negara agraris & maritim.

Kalau misalnya kita bandingkan dengan kondisi geografis negara Indonesia, luas daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan mencapai 3.257.483 km2. Di dalamnya terkandung keanekaragaman hayati yang tinggi, serta kenyataan bahwa alam Indonesia berada dalam jalur vulkanik (ring of fire), di mana debu gunung berapi mengembalikan unsur hara di dalam tanah yang baik bagi pertanian. Berbagaitumbuhan di Indonesia cukup banyak yang masuk ke dalam kategori tanaman pangan, misalnya umbi-umbian yang mengandung karbohidrat, buah-buahan, jagung, dll. Selain itu, sumber pangan lain terdapat pada hewan, baik di darat maupun yang hidup di perairan. Kalau berkaca dari negara Jepang, konsumsi ikan termasuk tinggi dan menunjukkan pengaruh positif terhadap pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat mereka. Artinya, alam Indonesia (baik darat maupun laut) sebetulnya menyediakan lebih dari cukup untuk kebutuhan pangan bagi rakyat negeri ini.

Kisah yang cukup ironis dari dampak impor ini adalah sempat menghilangnya produk kedelai dari pasaran, yakni tahu dan tempe. Kondisi tersebut terjadi di pertengahan tahun 2013. Para pengrajin tahu dan tempe mengeluhkan dua hal : pertama adalah mahalnya bahan baku kedelai di pasar, kedua adalah minimnya ketersediaan bahan baku kedelai. Kedua hal tersebut saling berhubungan dalam mekanisme pasar, di mana harga bahan baku yang mahal adalah akibat dari minimnya jumlah bahan baku yang tersedia. Seperti yang sudah dituliskan di atas, kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang diimpor, nilainya mencapai US$ 1 miliar dengan volume 1,62 miliar kg. Angka tersebut termasuk tinggi[1].

Kondisi tersebut semakin memprihatinkan ketika melihat banyaknya para petani yang beralih profesi ke sektor lain. Data sensus pertanian 2013 yang dirilis oleh BPS menunjukkan penurunan rumah tangga pertanian yakni sejumlah 26,13 juta rumah tangga dibandingkan dengan tahun 2003 yang berjumlah 31,17 juta rumah tangga[2].

Ketergantungan Pangan : Haruskah Makan Beras?

?Kalau belum makan nasi berarti belum makan?, kata-kata ini sudah lazim kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, yang menerangkan persepsi warga Indonesia terhadap pola makan. Kemudian kata-kata itu jua menunjukkan ketergantungan terhadap beras yg relatif tinggi menjadi kuliner pokok. Mungkin kita sudah lupa bahwa makanan pokok suatu wilayah nir selalu beras. Di Papua, warga asli umumnya akrab dengan umbi-umbian seperti sagu & singkong sebagai asal karbohidrat. Begitupun menggunakan pulau Jawa sendiri, sebetulnya pula mengenal umbi-umbian menjadi sumber karbohidrat selain beras. Di Madura, jagung sebagai kuliner utama.

2http://www.Ristek.Go.Id/file/gallery/2012/04/beras.Jpg

Perubahan kuliner utama pada banyak sekali wilayah pada Indonesia, salah satunya ditimbulkan sang Revolusi Hijau yg dijalankan oleh rezim Orde Baru hingga tahun 1990-an. Revolusi Hijau telah menyebabkan perubahan alih fungsi huma buat membentuk beras sebanyak-banyaknya. Yang lebih lanjut berdampak pada pola makan rakyat yang sebagai bergantung kepada beras. Di waktu ini, telah mulai timbul gerakan buat mengurangi konsumsi beras di masyarakat menggunakan mempromosikan asal-asal karbohidrat yg mampu ditumbuhkan sang Indonesia, misalnya sagu, ubi, singkong, jagung. Bahan pangan yang sebelumnya sudah dikenal oleh rakyat Indonesia.

Zat Aditif, Gaya Hidup Berbahaya

Sejak reformasi bergulir, ekonomi Indonesia cenderung dibuka seluas-luasnya untuk disusupi sang asing sehingga terjadi industrialisasi pada aneka macam aspek. Industrialisasi pangan pun nir terhindarkan sampai menyebabkan pengelolaan pangan menggunakan menggunakan mesin dan menaikkan jumlah kuliner dalam kemasan. Salah satu produk industri pangan yg ?Khas? Indonesia saat ini adalah mi instan. Sebuah norma yang mulai ?Membudaya? Pada rakyat adalah waktu terjadi bala alam, maka salah satu sumbangan yg diberikan berupa mi instan. Alasannya merupakan agar lebih simpel dan cepat buat segera menyantap jenis makanan yg dimaksud.

Menurut data World Instant Noodles Association (WINA), konsumsi mi instan di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 14,1 miliar bungkus. Dari peringkat yang disusun WINA, Indonesia berada di peringkat kedua setelah RRT (Republik Rakyat Cina?) dalam hal mengonsumsi mi instan[3].

Padahal kita memahami, bahwa kandungan di dalam mi instan tadi sangatlah tidak sehat bagi tubuh. Penggunaan zat-zat aditif misalnya MSG (monosodium glutamate), pengawet, pewarna makanan, dsb, sangatlah banyak terdapat dalam makanan yang diproduksi oleh pabrik. Gempuran makanan pabrik didukung juga sang jaringan supermarket yang kian hari bertambah pesat hingga ke pelosok. Artinya, yg mengenal makanan pabrik nir lagi rakyat perkotaan, namun juga pedesaan.

3http://sin.Stb.S-msn.Com/i/8D/778C880E830314360945D96841F33.Jpg

Kedaulatan Pangan Di Indonesia, Kapan?

Melihat situasi pada atas, sesungguhnya kita belum dapat mengatakan bahwa Indonesia sudah berdaulat pangan. Tantangan yg kita hadapi tidak hanya soal menunda laju impor, namun lebih-lebih mengangkat kualitas manusia Indonesia untuk mengelola pangannya dengan baik. Pengelolaan pangan berupa kemampuan menghasilkan sendiri yang baik, tentu dengan sendirinya sanggup mengerem kebutuhan impor pangan. Selain itu, kita jua wajib mempunyai pendidikan tentang kesehatan pangan, buat menanamkan pencerahan pada pentingnya menentukan pangan yg sehat dan alami. Karena kita sedang berhadapan dengan gempuran makanan pabrik yang mengandung aneka macam bahan sintetis yg tidak baik bagi kesehatan tubuh.

Setelah semuanya itu dilakukan, pertanyaan terakhir adalah ?Kapankah kita berdaulat pangan??

[1] Dikutip dari http://bisnis.liputan6.com/read/791549/daftar-29-bahan-pangan-yang-diimpor-ri-sampai-november

[2] Seperti yang dirilis melalui http://www.tempo.co/read/news/2013/09/07/092511259/BPSi-Jumlah-Petani-Berkurang

[3] Dikutip dari : http://www.infobanknews.com/2013/10/orang-indonesia-makan-mi-instan-26-826-bungkus-per-menit/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *