[PIKIR] Pangan Dalam Cengkeraman Kapitalisme
By: Date: November 18, 2018 Categories: Uncategorized

Penulis: Angga Dwiartama

Berbagai kasus tentang pangan dan pertanian di Indonesia bermunculan dalam 68 tahun sejak Indonesia merdeka. Penggundulan hutan dan konflik dengan masyarakat adat akibat perluasan lahan kelapa sawit di Kalimantan dan Sumatera, importasi jutaan ton beras yang mengancam kestabilan harga gabah antara petani padi di Jawa,masuknya Monsanto, perusahaan raksasa Amerika, dan bibit jagung transgenik ke Indonesia, rencana pendirian Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di Papua yang mengancam keberlangsungan masyarakat lokal dan lingkungan, hingga terakhir kasus kriminalisasi petani di Karawang – semua dapat ditilik dari kuatnya kapitalisme mengakar di dalam sektor pertanian dan pangan di Indonesia. Kapitalisme pangan adalah suatu sistem di mana pangan dan produk pertanian diperoleh melalui mekanisme pasar dan dioperasikan untuk memperoleh keuntungan (profit). Meski muncul dalam berbagai bentuk, kapitalisme pangan bukan hal baru, dan sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Tulisan ini bermaksudmengulas evolusi kapitalisme pangan di Indonesia dan dunia, dampaknya bagi petani, konsumen dan lingkungan, serta solusi aksi yang dapat kita berikan sebagai aktivis untuk melawan cengkeraman kapitalisme ini.

Tiga rezim pangan di global

Sejarah kapitalisme pangan di Indonesia tidak bisa lepas dari dinamika yang terjadi di tingkat global, setidaknya sejak Revolusi Industri di Eropa. Harriet Friedmann dan Phil McMichael, dua pakar sosiologi dari Amerika Serikat, membagi perkembangan kapitalisme pangan dunia semenjak awal Revolusi Industri hingga sekarang ke dalam tiga era (atau rezim): Kolonialisme pangan, Industrialisme pangan dan Neoliberalisme pangan1.

Revolusi Industri membentuk kondisi di masyarakat Eropa waktu itu, pada mana petani pada pedesaan beralih ke kota buat bekerja pada pabrik-pabrik, mengakibatkan banyak huma ditinggalkan & kota-kota besar kekurangan pangan. Harapan terbaik adalah mengangkut produk pertanian dari negara-negara koloni pada benua lain.Masa ini, dalam kerangka kapitalisme, dikenal dengan kata rezim Kolonialisme Pangan (1860-an hingga 1930-an). Era ini dicirikan menggunakan eksploitasi huma pertanian akbar-besaran pada wilayah-wilayah koloni, seperti Australia, Amerika Serikat, dan banyak negara tropis, disertai ekspor produk pertanian secara masif ke Eropa. Di poly loka, terjadi pergeseran kerangka berpikir pertanian, menurut ?Pemenuhan kebutuhan sendiri? (subsisten) sebagai ?Komersialisasi produk pertanian buat pasar global?.

Bentuk nyata kolonialisme pangan di nusantara tercermin pada sistem pertanian kulturstelselyang diterapkan Pemerintah Hinda Belanda untuk mengganti pertanian subsisten dengan komoditas ekspor (cash crops) seperti gula, kopra dan karet. Dengan sistem ini, petani harus membagi waktu, tenaga, dan lahan mereka untuk menanam tanaman pangan mereka sendiri di satu sisi, dan komoditas ekspor di sisi lain. Alhasil, pola pertanian menjadi lebih intensif, dan ini berakibat buruk bagi kualitas tanah pertanian mereka. Selain itu, petani dipaksa membayar pajak atas produksi pertanian mereka – seringkali dengan jumlah yang tidak masuk akal.

Gambar 1-kulturstelsel pada Hindia Belanda

Sumber:http://geschiedenis.kartonnen-platen.schoolplaten.webwinkel.lectorisalutem.nl/?pid=1454

Di Eropa, krisis ekonomi berkepanjangan yang terjadi di penghujung abad ke-19, diikuti menggunakan Perang Dunia I dan II, memicu terjadinya restrukturisasi terhadap sistem pertanian & perekonomian dunia. Amerika perkumpulan (Alaihi Salam), menjadi sentra kekuatan baru, membangun intervensi-nya melalui sistem keuangan dunia berbasis US Dollar & teknologi pertanian yang kelak dikenal menggunakan istilah Revolusi Hijau. Sementara sistem moneter baru memperkuat posisi Alaihi Salam pada negara-negara maju misalnya Eropa, Revolusi Hijau mengakarkan Alaihi Salam di negara-negara berkembang.

Revolusi Hijau berawal dari dikembangkannya gandum varietas unggul sang Norman Borlaug, seseorang agronom menurut Alaihi Salam. Dari sana, Revolusi Hijau menyebar ke aneka macam penjuru global, buat aneka macam jenis komoditas pangan (misalnya jagung, beras & kentang). Varietas unggul memiliki ciri lebih responsif terhadap nutrisi cepat-serap, tumbuh lebih cepat, & menyerap air lebih poly. Memang, menggunakan ini varietas unggul bisa menghasilkan sampai 3 kali lipat hasil panen ketimbang varietas lokal. Akan namun, varietas unggul pula disertai menggunakan satumasalah:bahwa apa yg ditawarkan bukan hanya bibit, tetapi suatu paket teknologi yang padat kapital, yg terdiri atas bibit varietas unggul, pupuk kimia, sistem irigasi intensif, mekanisasi pertanian, dan pestisida.Inilah yg mendasari industrialisasi pangan.

Alaminya, kapitalisasi sistem pertanian ini cenderung menaikkan kesenjangan sosial di antara petani. Pertanian intensif menyebabkan terjadinya akumulasi modal. Petani menggunakan modal besarakan memperoleh laba lebih besar jua. Sebaliknya, petani gurem nir akan sanggup mempertinggi kapasitas produksi mereka. Di kala terjadi kegagalan panen, mereka yg sudah terjerat hutang wajib merelakan lahan mereka dibeli sang para petani besar , dan beralih menjadi buruh tani, atau buruh pabrik di perkotaan.

Di Indonesia, program Revolusi Hijau baru dapat masuk setelah Soeharto membuka pintu investasi asing di tahun 1970. Badan PBB di bidang pertanian, FAO, bekerjasama dengan USAid, memberikan bantuan pertanian melalui pengadaan varietas unggul, pembuatan pabrik-pabrik pupuk nasional, dan paket pengendalian hama. Sepuluh tahun sejak Revolusi Hijau dicanangkan di Indonesia, data menunjukkan bahwa sebanyak 5% dari pelaku usaha pertanian padi di desa menguasai lebih dari 90% lahan pertanian2.

Pola ini juga terjadi di Amerika perkumpulan. Pemerintah Alaihi Salam menaruh subsidi akbar-besaran buat produksi gandum, jagung & kacang kedelai, yg menyebabkan segelintirperusahaan tumbuh menjadi sangat besar & mendominasi sektor pertanian ? Sebut saja Monsanto, Cargill, Novartis, & Syngenta. Hal ini sebagai dasar bagi tumbuhnya rezim pangan berikutnya pada global.

Krisis minyak bumi pada tahun 1973 dampak monopoli minyak oleh OPEC memukul mundur penguasaan AS terhadap global. Pelaku bisnis menyadari bahwa menggantungkan diri pada kebijakan suatu negara bukanlah suatu taktik yang baik. Perusahaan-perusahaan besar pada Alaihi Salam mulai berinvestasi di negara-negara lain. Terbentuklah apa yang diklaim Multi-National Corporations (MNC), perusahaan super besar yg tidak lagi dikekang oleh batas-batas negara. Negosiasi yg terjadi di taraf regional & internasional, misalnya melalui WTO atau AFTA, menuntut satu hal: negara harus menghilangkan pajak, subsidi dan apapun yang menghambat terjadinya proses perdagangan bebas dan menyerahkan seluruh ke prosedur pasar. Karena itu, era ini dikenal menggunakan istilah Neoliberalisme Pangan.

Bercermin pada apa yang terjadi di negara-negara seperti AS dan Meksiko, neoliberalisme pangan menghimpit sektor pertanian kita dari dua sisi. Di satu sisi, bibit, pupuk, dan pestisida dikuasai oleh segelintir perusahaan. Melalui lobi terhadap pemerintah, perusahaan ini memiliki kekuatan untuk mengatur harga, memasang Paten atas produk mereka dan menindak petani yang melanggar. Di sisi lain, industri pangan raksasa juga menguasaipasar produk pangan dan mengontrol keinginan konsumen untuk membeli. Dari himpitan itu, petani lah yang paling banyak dirugikan. Seringkali petani tidak dapat menikmati keuntungan dari hasil panennya karena harga produk di pasar terlalu rendah, atau hutang untuk membeli sarana produksi pertanian terlalu tinggi. Tetapi konsumen pun turut menjadi korban. Seberapa sering kita digiurkan oleh produk-produk makanan yang rendah nutrisi dan kaya bahan penguat rasa, seperti yang ditawarkan oleh berbagai restoran siap saji (fast food). Seringkali kita tidak tahu apa yang terkandung di dalam makanan yang kita beli. Lebih lagi, sebagian besar produk konsumen di dunia dikuasai oleh tidak lebih dari 10 MNC (Lihat Gambar 2). Lalu bagaimana kita melepaskan diri dari jeratan mereka?

Gambar 2-10 MNC menguasai sebagian besar produk konsumen

Diambil berdasarkan http://thepoliticalcarnival.Net/wp-content/uploads/2012/05/10-multinational-corporations-control-most-consumer-brands.Jpg

Penutup

Satu hal yang menarik adalah bahwa di awal abad ke-21, kapitalisme tidak lagi sekuat satu abad sebelumnya.Ulrich Beck3, seorang sosiolog dari Jerman, mengistilahkan masyarakat di abad ini sebagai risk society – masyarakat yang lebih peka terhadap informasi, lebih kritis, lebih memperhatikan resiko dari segala bentuk modernisasi, dan lebih mau berorganisasi untuk perubahan. Seiring dengan munculnya berbagai dampak buruk dari kapitalisme pangan, gerakan-gerakan akar rumput mulai bermunculan untuk melawan dominasi MNC.Hebatnya, mereka pun berhimpun di tingkat internasional. Sebagai contoh, La Via Campesina (di Indonesia diwakili oleh Serikat Petani Indonesia) yang menuntut kedaulatan pangan dan hak-hak petani gurem, Slow Food Movement sebagai respons terhadap meluasnya industri fast-food di berbagai belahan dunia,Fair Trade yang menyuarakan perdagangan yang lebih berkeadilan, hingga gerakan-gerakan lokal seperti pasar petani (farmers’ market), Community-Supported Agriculture, komunitas organik, dan sebagainya, mulai tumbuh dengan subur. Komunitas ini tidak lagi didominasi oleh petani dan masyarakat terpinggirkan, tetapi juga masyarakat kelas menengah di perkotaan.

Satu langkah nyata bagi kita untuk melawan kapitalisme pangan adalah melalui ekonomi komunitas – suatu aktivitas ekonomi yang tidak didasari sepenuhnya oleh mekanisme pasar. Kita dapat memulai dari hal-hal kecil: membeli produk lokal dan berbelanja di pasar tradisional, menanam tanamanmu sendiri dan bertukar pangan (barter) dengan kawan-kawan di komunitas, dan ber-ekonomi dengan uang sesedikit mungkin.Suarakanpula kekhawatiranmu atas berbagai dampak kapitalisme pangan, serta sebarkan ide tersebut ke teman-teman terdekat, atau lewat media-media sosial. Lebih lanjut, mulailah terlibat dalam berbagai kegiatan di gerakan-gerakan akar rumput di komunitas kamu, dan mulailah berjejaring!

Rujukan:

1Friedmann, H. & McMichael, P. 1989. Agriculture and the State System: The Rise and Decline of National Agricultures, 1870 to the Present. Sociologia Ruralis 29, 93 – 117.

2Hart, G., A. Turton, B. White, B. Fegan & L. T. Gheen (Eds.) 1989, Agrarian Transformations: Local Processes and the State in Southeast Asia. University of California Press.

3 Beck, U. 1992. Risk society: towards a new modernity. SAGE.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *