Editorial Agustus 2014
By: Date: November 19, 2018 Categories: Uncategorized

Salam Transformatif! Salam Kemerdekaan!

Memasuki bulan peringatan kemerdekaan Bangsa Indonesia, Pro:aktif Online pulang hadir di tengah-tengah Anda. Namun, sebelum beranjak lebih jauh, kami ingin mengajak pembaca seluruh buat mempertanyakan pulang, sudahkah Anda memaknai kemerdekaan bagi diri Anda sendiri? Sudahkah hidup Anda berdaulat, pada tengah hiruk pikuk perkembangan jaman saat ini?

Dalam rangka memperingati kemerdekaan Republik Indonesia, Pro:aktif Online hadir untuk memaknai kemerdekaan dari aspek mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu pangan. Oleh karena itu, tema yang kami usung kali ini adalah “Bangsa Indonesia dan Kedaulatan Pangan”

Pangan adalah salah satu hal krusial dalam kehidupan manusia. Ia adalah wahana dasar yang dibutuhkan sang manusia buat melanjutkan hidupnya. Sebagai sebuah wahana, hendaknya insan mempunyai kebebasan pada proses pengadaan pangan, bebas mengolah bahan baku pangan menjadi kuliner sehat yang memperkuat tubuh, bukan sebagai penyakit bagi tubuh itu sendiri.

Namun, bagaimana saat kebebasan pada proses pengadaan pangan itu justru membelit insan pada lingkaran ketergantungan yang merugikan? Dengan keadaan demikian, dapatkah dikatakan bahwa insan sudah berdaulat dalam hal pangan?

Pengertian kedaulatan pangan sebuah bangsa,menurut Serikat Petani Indonesia, adalah hak setiap bangsa buat menghasilkan pangan secara berdikari, serta hak untuk tetapkan sistem pertanian, peternakan & perikanantanpa adanya subordinasi dari kekuatan pasar internasional.

Mencermati definisi di atas, apakah Bangsa Indonesia sudah berdaulat pada hal pangan? Oleh karena itu, ayo kita telusuri jawabannya bersama-sama dalam edisi Pro:aktif Online kali ini.

Pertama-tama, untuk mengetahui hakikat kedaulatan pangan itu sendiri, Anda dapat membaca rubrik Opini yang ditulis oleh Angga Dwiartama. Dalam artikelnya, ia membedakan antara ketahanan atas pangan (secure of food) atau ketahanan melalui pangan (secure through food).

Rubrik Opini yang ke 2, ditulis sang Anton Waspo, mengulik mengenai fenomena impor bahan pangan di Indonesia yg telah mematikan produk pertanian lokal. Hal ini tentu saja mengurangi upaya bangsa Indonesia untuk berdaulat dalam bidang pangan. Bagaimana upaya mengurangi kesamaan mengimpor bahan pangan, bisa kita cermati di dalam artikel ini.

Rubrik Pikir yang ditulis sang Angga Dwiartama mengajak pembaca buat merenungkan balik mengenai cengkeraman kapitalisme terhadap proses pengadaan pangan. Rubrik Pikir yg ke 2, ditulis sang David Ardes.Dalam rubrik tersebut pembaca diajak buat merenungkan secara spesifik tentang kedaulatan pangan dalam skala Indonesia menjadi suatu bangsa.

Rubrik Masalah Kita, yang ditulis secara kolaboratif oleh Agustein Okamita & Navita Astuti, mengulas tentang penurunan mutu pangan, mulai dari proses pengolahan pada huma pertanian, proses panen hingga proses pengolahan menjadi bahan pangan. Artikel ini mengajak kita semua buat kritis mencermati proses-proses pengadaan pangan yang mengutamakan mutu serta mendukung kesejahteraan dan kesehatan konsumen.

Rubrik Media ditulis sang Shintia D. Arwida, mengulas berbagai bacaan yang akan mencerahkan pembaca mengenai persoalan pangan.

Rubrik Tips ditulis sang Maya Pujiati.Ia membahas tentang mudah dan murahnyamenghasilkan pangan sendiri menurut kebun famili. Ia juga memberi contoh praktik-praktik yg dilakukannya sendiri di rumah, buat membentuk kuliner sehat tanpa wajib mengeluarkan porto yang mahal.

Di rubrik Tips yg kedua, Melly Amalia mengulas berbagai tips menentukan bahan kuliner yg menyehatkan tubuh.

Any Sulistyowati membawakan rubrik Profil berisicerita mengenai gerakan Koperasi Teikei. Keistimewaan koperasi ini merupakan sistem pengadaan pangan secara eksklusif dan sehat yg diciptakan secara mandiri antara produsen & konsumen pada Provinsi Chiba, Jepang.

Melly Amalia membawakan rubrik Jalan-Jalan, yang mengulas tentang aktivitas sebuah organisasi bernama Bandung Berkebun. Yg penekanan pada pemanfaatan huma buat kebun. Rubrik ini hendak menerangkan tentang berbagai laba yang didapat dari berkebun.

Menilik artikel-artikel yg ada di edisi ini, satu hal yang perlu direnungkan beserta, bahwa kemerdekaan bukan sekedar status, atau sekedar nomor -angka atau semata-mata baku yg sudah dicapai, melainkan sebuah upaya atau gerakan, yang berawal menurut hati masing-masing individu. Sudahkah kita sendiri membebaskan diri menurut belenggu ketergantungan akan sesuatu? Terkait menggunakan tema ini, kita perlu bertanya pulang dalam diri kita sendiri, sudahkah kita merdeka untuk menentukan sistem pangan sehat & berkelanjutan bagi diri kita sendiri? Sudahkah Bangsa Indonesia mempunyai kesadaran untuk mewujudkan itu seluruh?

Mari, berjuang buat merdeka!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *