[PIKIR] Menilik Persoalan Kesehatan di Indonesia
By: Date: November 21, 2018 Categories: Uncategorized

(Berdasarkan hasil wawancara dengan Yanuar Nugroho, Asisten Ahli Kepala UKP4, Jakarta)

Gambar diambil dari http://www.epa.gov/ttn/atw/3_90_024.html

Di era globalisasi dunia saat ini persoalan kesehatan tidak bisa dipandang sebagai persoalan tunggal yang berdiri sendiri, melainkan persoalan multidimensi. Indonesia sebagai negara berkembang kini mengalami perubahan demografi, di mana kelas menengah tumbuh dan menempati jumlah terbanyak dalam statistik kependudukan. Hal ini sedikit banyak telah menyumbang pada persoalan kesehatan yang disebabkan oleh gaya hidup tertentu dengan implikasi-implikasi sosial,

budaya & politik yg melingkupinya.

Masalah Kesehatan Terpenting pada Indonesia Saat Ini

Sebagai negara berkembang, Indonesia masih poly perlu berbenah. Beragam konflik ada menjadi masalah khas negara berkembang, tetapi di artikel ini, kami akan menengok lebih jauh duduk perkara kesehatan dan mengapa masalah tersebut mengemuka, dicermati berdasarkan aspek ekonomi, politik & sosial budaya.

Hasil wawancara penulis menggunakan Yanuar Nugroho menjelaskan, ada 2 kasus kesehatan yang paling penting dihadapi oleh negara Indonesia saat ini. Pertama, masalah kesehatan yang menimpa paling poly orang miskin saat ini akibat kemiskinan, serta jelek atau rendahnya akses pada jasa dan prasarana kesehatan. Kedua, masalah kesehatan dengan taraf prevalensi tinggi yg ternyata dipicu oleh gaya hayati masyarakat kelas menengah.

Kategori masalah kesehatan pertama, yang paling banyak diderita oleh golongan rakyat miskin merupakan masalah-perkara kesehatan lantaran tiadanya atau buruknya sanitasi, kelaparan karena ketakmampuan akses dalam asal makanan yang layak, maupun ketidakmampuan pada mengakses layanan kesehatan di negara ini. Penyakit seperti tuberkulosisi, malaria, demam berdarah, kurang gizi, & poly lainnya, merupakan contoh kentara berdasarkan kategori ini.

Hal ini menjadi perkara karena kategori pertama ini acapkali luput dari perhatian dunia waktu ini. Meskipun sasaran pemberantasan penyakit akibat kemiskinan ini telah dimasukkan dalam rencana organisasi-organisasi kesehatan global seperti WHO, tetapi kenyataannya tidak sebagai prioritas. Hal ini terlihat misalnya pada global medis dan farmasi. Industri medis & farmasi global cenderung menyasar inovasi mereka justru pada kategori perkara kesehatan kedua, yaitu penyakit dengan taraf prevalensi tinggi akibat gaya hidup, yakni antara lain diabetes dan penyakit terkait tekanan darah dan jantung.

Namun demikian, sesungguhnya ke 2 jenis masalahan kesehatan ini sama pentingnya buat dibenahi. Mari kita tengok faktor-faktor yg menjadi akar kasus menurut duduk perkara di atas dan mengapa krusial buat mencari jalan munculnya.

Mengurai Latar Belakang Perseteruan Kesehatan pada Indonesia dari Aspek Ekonomi, Politik, Sosial & Budaya

Laju roda perekonomian pada Indonesia sudah mengangkat bangsa Indonesia keluar dari garis kemiskinan. Ia telah mengantar masyarakat Indonesia dalam kemakmuran & membentuk populasi masyarakat kelas menengah yg biasanya terdiri dari kalangan pekerja di kota-kota besar . Mereka, secara statistik, menempati jumlah terbanyak warga Indonesia waktu ini.

Kelas menengah didefinisikan sebagai golongan warga yang bisa mencukupi kebutuhan di atas kebutuhan dasar/primer (pangan, sandang & papan). Jadi, mereka tidak pusing lagi buat sekedar memenuhi meja makan mereka dengan nasi & lauk pauk, atau sekedar membeli sandang seminggu sekali. Kelas menengah yang memiliki daya beli buat memenuhi kebutuhan sekunder (dan secara terbatas tersier) ini jelas nir termasuk dalam kategori orang miskin, namun jua bukan termasuk pada kategori kaya (kelas atas).

Persoalan yang dihadapi oleh kalangan kelas menengah yang terkait kesehatan terletak di gaya hidup yang mereka jalani. Kalangan kelas menengah yang umumnya hidup di kota-kota besar, sehari-harinya harus bertarung dengan padatnya lalu lintas untuk berangkat dan pulang dari kantor tempat bekerja. Mayoritas kelas menengah ini menggunakan sepeda motor atau kendaraan umum sebagai sarana transportasi menuju tempat bekerja sehari-hari. Hal ini membuat mereka terpapar (exposed) pada racun polusi udara yang disebabkan oleh padatnya kendaraan yang digunakan di kota besar.

Sempitnya waktu yang mereka miliki karena harus berangkat pagi hari menuju tempat kerja dan pulang larut malam karena mengalami kemacetan di perjalanan menjadikan waktu untuk berolahraga menjadi minim. Belum lagi sarana olahraga, seperti fitness center yang kian mahal di perkotaan, akhirnya hanya dapat digunakan oleh kalangan masyarakat kelas atas.

Kesibukan yang tinggi menjadikan kalangan kelas menengah lebih memilih untuk menyantap makanan siap saji –dan seringkali berkualitas rendah—karena mereka tak sempat memasak sendiri makanan mereka.  Padahal, makanan-makanan seperti seperti mie instan, fried chicken atau burger jelas-jelas mengandung bahan pengawet serta penyedap rasa yang tidak sehat bagi tubuh.

Gaya hidup di ataslah yg lalu mengakibatkan prevalensi penyakit seperti diabetes dan penyakit terkait jantung & tekanan darah semakin meningkat. Ini bukan jenis penyakit yg bisa dianggap remeh. Pengobatan penyakit-penyakit tadi sangat menguras kantong, dan nir ada pengobatan murah buat jenis penyakit dampak gaya hayati. Maka, jika gaya hidup kelas menengah misalnya yang dipaparkan di atas tak segera diperbaiki, hal ini akan membentuk ?Jebakan dan ancaman? Bagi kelas menengah itu sendiri, yaitu menurunnya tingkat kesejahteraan secara keseluruhan.

Dari segi politik, kebijakan pemerintah dalam hal kesehatan di Indonesia turut menyumbang pada masalah kesehatan yg sudah disebut pada atas. Contoh konkret yang terjadi merupakan kebijakan seputar ibu hamil dan persalinan. Target pemerintah untuk mengurangi nomor kematian ibu (AKI) melahirkan merupakan menurut 250 sebagai 185 per 100.000 kelahiran. Namun, fenomena waktu ini, AKI justru semakin tinggi ke 359 per 100.000 kelahiran. Ini kentara adalah masalah kebijakan, yg turut menyumbang dalam masalah kesehatan di Indonesia.

Kedua, kebijakan pemerintah terkait pelayanan kesehatan dasar (primary healthcare) atau Puskesmas juga problematik. Aturan pemerintah menyatakan Puskesmas perlu ada untuk setiap lima ribu penduduk. Namun hal ini sulit direalisasikan di wilayah-wilayah terpencil di Indonesia, khususnya di pulau-pulau kecil. Karena total penduduk kurang dari lima ribu, seringkali tidak terbangun Puskesmas di sana. Hal ini menunjukkan, bahwa kebijakan pemerintah yang dijalankan belum berpihak kepada semua masyarakat khususnya mereka yang berada di wilayah yang terpencil.

Ketiga, kebijakan kesehatan pemerintah belum meliputi penanganan prevalensi penyakit akibat gaya hayati. Contoh yang bisa diambil merupakan iklan rokok yang banyak tersebar pada sekeliling kita saat ini. Padahal, rokok sudah diketahui adalah penyebab utama penyakit kanker paru-paru. Selain itu, kurang ketatnya peraturan dilarang merokok pada tempat-tempat generik, misalnya bandara juga terminal angkutan umum, menerangkan lemahnya kebijakan kesehatan yang dijalankan sang pemerintah Indonesia.

Contoh lain adalah maraknya iklan susu formula ibu hamil & bayi. Alih-alih menyebarkan pengetahuan pentingnya gizi yg bersumber menurut bahan-bahan alami bagi ibu hamil dan bayi yang baru dilahirkan, pemerintah seolah-olah membiarkan propaganda susu formula merebak sampai ke klinik-klinik kesehatan bunda dan anak. Alhasil, pengetahuan yang tertanam di benak ibu-mak Indonesia saat ini justru menduga susu formula menjadi gizi utama bagi anak mereka. Hal ini menandakan lemahnya kebijakan pemerintah pada menanamkan pengetahuan akan gizi yg penting bagi pertumbuhan anak.

Kesimpulannya, kebijakan pemerintah nampaknya belum menanamkan upaya gaya hayati sehat buat memberantas konflik kesehatan yang dimaksud di atas.

Dari segi sosial budaya, persoalan kesehatan terkait dengan persoalan dan gagasan mengenai identitas masyarakat modern. Di kelas menengah, kini seseorang dilihat dan dinilai berdasarkan makanan yang dimakan, pakaian yang dikenakan, maupun kendaraan yang ditumpangi. Kita bisa mengambil contoh mall, sebagai sarana unjuk identitas masyarakat modern saat ini. Demi identitas, orang-orang menyerbu mall, menyantap makanan di gerai-gerai makanan bergengsi, yang mereka sendiri tidak tahu apakah makanan tersebut mengandung gizi yang baik atau tidak. Udara yang dihirup di mall juga bukanlah udara yang alami, melainkan berpendingin udara. Godaan diskon di toko-toko pun turut membahayakan isi kantong, karena alih-alih menabung, demi identitas, orang rela untuk menghamburkan uang begitu saja di mall.

Gaya hidup yang terbentuk semata-mata demi sebuah bukti diri, tentu bukanlah gaya hayati yg sehat. Oleh karena itu, faktor sosial budaya yg digambarkan pada atas, turut berperan menyumbang kepada kasus kesehatan di Indonesia.

Pengaruh Persoalan Kesehatan Bagi Kualitas Hidup & Kualitas Alam

Rangkaian faktor karena-akibat perkara kesehatan di atas akan mengantar masyarakat Indonesia pada satu keadaan. Di tingkat individu, gaya hayati tidak sehat membentuk manusia yang sakit-sakitan. Dan ini menyebabkan seseorang menjadi kurang produktif. Dalam jangka panjang, semakin poly orang kurang produktif akan berakibat rakyat secara kolektif juga sebagai kurang produktif. Celakanya lagi, warga yg nir sehat dan tidak produktif ini akan membuat generasi yang sama atau besar kemungkinan lebih buruk dibandingkan generasi sebelumnya. Ini menjadi ?Jebakan kelas menengah? Dalam perspektif yang lain.

Bagi alam, gaya hayati tidak sehat akan menurunkan kualitas alam. Lahan alami berubah fungsi demi memenuhi kebutuhan masyakarat menggunakan gaya hidup tidak sehat, seperti penanaman monokultur kelapa sawit, peternakan sapi buat konsumsi daging yg kian meningkat serta pemukiman penduduk dampak pertambahan jumlah penduduk yg pesat. Ekosistem dihancurkan demi perkembangan ekonomi & gaya hidup terbaru.

Bagaimana Upaya Untuk Kembali ke Gaya Hidup Sehat?

Demi mencegah penurunan produktivitas rakyat, kualitas hidup & kualitas alam, maka seyogianya insan pulang ke gaya hayati sehat. Tentu hal ini tidaklah mudah, lantaran menyangkut gaya hayati yg sudah mengakar pada masyarakat. Namun, semuanya dapat dicoba pada kegiatan maupun tindakan mini dalam keseharian kita.

Gambar diambil menurut http://www.Health.Gov/paguidelines/blog/post/A-Vision-for-a-Healthier-More-Prosperous-America.Aspx

Lebih memilih repot sedikit memasak makanan yang dikonsumsi setiap hari, membawa bekal buah-buahan ke kantor atau sekolah, menolak junk food atau makanan cepat saji, dapat mulai dilakukan sedikit demi sedikit untuk mengubah gaya hidup kita. Jadikan cara mengonsumi makanan maupun minuman dalam diri kita lebih berkelanjutan.

Kita nir sendiri. Kita hayati di dalam komunitas. Individu bisa mempengaruhi komunitas. Maka, gaya hayati sehat pun bisa ditularkan ke komunitas di sekitar diri kita masing-masing.

Mendukung upaya-upaya gaya hidup sehat, merupakan salah satu kontribusi pribadi untuk kembali ke gaya hidup sehat. Di Bandung misalnya, kita dapat mendukung gerakan bersepeda ke kantor (bike to work), gerakan car free day maupun gerakan menghidupkan ruang publik yang dicanangkan oleh walikota Bandung, Ridwan Kamil.

Dalam skala nasional, upaya yg bisa dilakukan merupakan mendukung perubahan kebijakan yang mendorong ke arah gaya hayati sehat.

Dalam skala global, upaya yang dilakukan salah satunya adalah turut berperan merumuskan target pembangunan pasca millenium development goals (pasca MDGs) yang dicanangkan oleh Badan PBB.

Penutup

Kita semua dapat melihat, betapa jalinan sebab dampak menurut aneka macam aspek sosial, budaya & politik berperan pada menurunkan kualitas kesehatan seseorang manusia. Apakah kita sebagai rakyat Indonesia ingin generasi mendatang, anak cucu kita, terjebak dalam pusaran gaya hayati tidak sehat? Apakah kita akan membiarkan kualitas kesehatan jiwa, raga & lingkungan sekitar anak cucu kita menurun dampak gaya hayati yang tidak sehat? Jawaban terletak pada tangan kita semua. Maka, bertindaklah sekarang, masa depan generasi mendatang, ada pada tangan kita, ketika ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *