[Pikir] Pengaruh Seni Dalam Hidup Manusia
By: Date: November 27, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: David Ardes Setiady

Seni untuk individu bermanfaat buat mengasah rasa sebagai akibatnya hidup sebagai berwarna-warni dan lebih bersemangat. Sementara di sisi lain, seni memiliki fungsi sosialnya menjadi media komunikasi, yaitu buat menyebarkan pesan-pesan sosial. Bilamana lalu posisinya pada tengah masyarakat, apakah memihak warga atau menjadi indera propaganda penguasa semata, menjadi hal lain yang bisa diperdebatkan. Namun, seni perlu dilihat lagi pada perspektif manfaat bagi perkembangan diri manusia, di mana manusia semakin menemukan dirinya melalui seni.

SENI DAN MANUSIA

Seni merupakan proses kreativitas insan, yang asal dari pandangan baru, gagasan, luapan perasaan

yang diekspresikan melalui media eksklusif, sehingga orang lain bisa turut menikmatinya dan bisa turut mengapresiasi pesan yang disampaikan sang pembuat karya seni tadi. Manusia sangat erat dengan pesan-pesan, yg diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui seni, manusia mewariskan pesan-pesan kehidupan, sebuah kebijaksanaan buat mengatasi tantangan kehidupan. Metafora alam diceritakan dengan penuh pesona dalam sebuah cerita legenda, ataupun diterjemahkan ke dalam tari-tarian ataupun jua nyanyian.

Seni merupakan produk budaya manusia yang usianya telah sangat tua, di setiap peradaban niscaya menerangkan bentuknya. Memang nir semuanya mengalami nasib yang relatif baik buat mampu sampai di tangan generasi masa kini , sebagian rusak tidak terawat, bahkan sebagian dimusnahkan karena alasan agama. Tetapi, seni terus mengalir menurut generasi ke generasi, memperbaharui bentuknya yg kontekstual terhadap jaman. Misalkan, lakon Odiesus yg tersohor dari jaman Yunani antik, sampai masa kini kerap dipentaskan oleh kelompok-grup teater. Ataupun, cerita Romeo & Juliet yang sampai hari ini sebagai simbol kisah percintaan yg tragis. Karya seni tadi berjalan menembus ruang dan waktu, mendapatkan tempatnya di generasi masa kini .

SENI VS KEKUASAAN

Seni yg sejatinya merupakan kegiatan mengekspresikan ide, gagasan, bahkan perasaan, terkesan nir memiliki hubungan apapun dengan yg namanya politik. Tetapi, sejarah di beberapa tempat, menampakan betapa seni bisa terasa menakutkan bagi pihak berkuasa hingga dia dirasakan perlu buat dibungkam. Larangan diberlakukan menggunakan tegas dan keras, yg melanggar akan pribadi ditahan tanpa proses peradilan, atau bahkan dihilangkan seolah-olah nir pernah lahir.

Seni sangatlah subjektif, tetapi mempunyai kekuatannya yang masif waktu dia disebarkan buat dinikmati & diresapi pesan yang terkandung. Tak heran, pihak berkuasa berulang kali mengupayakan sebuah pengendalian terhadap seni, hasilnya?

Marilah kita melihat sejenak ke belakang, apa yang pernah terjadi pada seni di negeri ini.

Majalah TEMPO edisi 30 September 2013, menurunkan edisi khusus mengenai LEKRA, yaitu Lembaga Kebudayaan Rakyat, yang dalam bepergian sejarah disalahpahami sebagai bagian berdasarkan PKI. LEKRA, pada ulasan TEMPO, disebutkan memiliki sikap kebudayaan bahwa seni buat warga . Lebih lanjut, dipaparkan kegiatan para seniman dan pendidikan seni yang dilakukan pada para pelaku seni menggunakan ?Turun ke bawah?, yang kemudian disingkat sebagai ?Turba?. Hal ini bertujuan agar artis terhubung dengan realitas kehidupan masyarakat sehingga dalam berkesenian, karya seninya mempunyai arti yang benar-benar hidup. Memang prinsip yg dipegang LEKRA cukup keras, karena pendirinya menduga ?Apabila seniman hanya membuat seni untuk dirinya sendiri, ia nir memiliki arti?. Pada masa itu, LEKRA mendorong seni benar-sahih hidup pada rakyat dan hidup buat rakyat. Berbagai pagelaran dan pameran diadakan pada hari-hari peringatan akbar seperti HUT Kemerdekaan, HUT PKI, dan HUT LEKRA. Dari catatan TEMPO, kehidupan artis berada dalam taraf yang ?Layak? Karena disokong sang LEKRA, tentu dengan anggaran yang wajib diikuti.

Sayang seribu sayang, ketika seni dijadikan sebagai alat propaganda & kehilangan ruhnya sebagai media aktualisasi diri jiwa, bahkan fungsi sosialnya pun dikebiri. Ketika Orde Baru menerima panggungnya di negara yg ketika itu sedang bergolak, LEKRA diberangus & seni dikendalikan oleh pemerintah melalui lembaga sensor. Seni nir lagi bebas, dibendung atas nama keamanan. Seniman yang karyanya dianggap mengancam kekuasaan akan diciduk, dipenjara, atau bahkan dibunuh. Pemerintah mengecilkan peran dan fungsi seni menjadi hanya sekedar hiburan, seniman direduksi menjadi penghibur semata. Posisi seni makin lama mengambang pada posisinya yang eksklusif kepada mereka yang secara spesifik mengabdikan diri untuk seni, seni tidak lagi sebagai bagian pada pada kehidupan manusia Indonesia.

Cerita lain, yang sudah cukup sering didengar adalah kisah seorang Pramoedya Ananta Toer, novelis yang telah diakui oleh dunia luar. Novel almarhum sarat nilai historis dan unsur budaya yang kental, memotret feodalisme yang kerap membelenggu masyarakat Indonesia. Sayang, pemerintah malah menganggap novel-novel Pram (panggilan Pramoedya Ananta Toer) sebagai ancaman, sehingga diberangus dan bahkan Pram sendiri dipenjara tanpa proses peradilan. Pramoedya Ananta Toer, masih memiliki hubungan dengan LEKRA karena ketika masih muda pernah bergabung dengan tim redaksi Harian Rakjat, harian yang berada di bawah naungan LEKRA. Hidup Pram mungkin tidak pernah tenang pada rezim Orde Baru, namun produktivitasnya tetap tajam pada masa “pembuangan” oleh pemerintah. Goresan pena menggurat tajam menjadi novel Bumi Manusia, yang dijadikan salah satu bahan belajar mengenai sastra Indonesia. Pemerintah bisa berupaya membungkam kegiatan seni Pram, namun kreativitas terus mengalir bahkan di balik jeruji besi. Novel-novel yang dituliskan oleh Pram berisikan pesan yang kuat tentang kesewenang-wenangan pemerintah. Novel tersebut bukan sekedar hiburan semata, yang membuat pembaca terenyuh lalu menutupnya tanpa kesan yang mendalam. Novel Pram meninggalkan kesan yang mendalam untuk para pembacanya, mengingatkan para pembacanya tentang salah satu episode kehidupan di bumi Indonesia pernah ada kesewenang-wenangan.

Masih poly kisah pembungkaman terhadap seni yg dilakukan sang para pihak berkuasa, biasanya karena menduga karya seni tadi adalah ancaman bagi kekuasaan. Para pelaku seni ditangkap, bahkan dibunuh hanya demi membungkam seni yg mampu memacu gelora perubahan. Kepekaan dan kegelisahan para pelaku seni terhadap situasi yang memasung kreativitas, dikhawatirkan memantik semangat perlawanan terhadap kesewenang-wenangan. Seni dalam masanya nir pernah hanya sekedar seni yang dikagumi semata, namun menghadirkan pencerahan mengenai apa yang terjadi dalam lingkungannya.

SENI DALAM KEHIDUPAN

Seni pada posisi eksklusif memiliki dimensi yang begitu luas, sedangkan bagi mata yg umum , mungkin seni dilihat hanya dalam produk lukis semata. Padahal, produk seni begitu beragam. Tetapi yang paling penting bukanlah produk seninya, melainkan proses kreatif yang terjadi. Seni membantu manusia buat memahami dirinya, sesamanya, & dunianya. Mungkin akan ada pihak-pihak yg merasa terganggu menggunakan karya seni yang dihasilkan, menggunakan banyak sekali alasan. Tetapi, kita harus ingat bahwa proses kreatif sejatinya tidak dapat dibendung.

Memang pada masa kini ini, produk teknologi sedang diagung-agungkan, begitupun dengan aktivitas ekonomi yang sebagai kegiatan utama kehidupan menurut sejak lama . Ketika manusia abai terhadap seni yang sebagai wadah buat meneduhkan jiwanya yg sedang galau & penuh pertanda tanya, manusia menjadi sakit lantaran tidak bisa mengendalikan amarahnya. Kita lihat pada kota-kota akbar misalnya Jakarta, sangatlah gampang buat memantik kerusuhan, sedikit ukiran yang dibumbui dengan embel-embel penistaan agama sudah mampu menjadi kekacauan sosial. Masyarakat Indonesia ketika ini acapkali goyah karena sporadis berkesenian, seni jauh dari keseharian. Kebanyakan memosisikan diri menjadi penonton ketimbang pelaku, banyak alasan yang dikemukakan. Mulai berdasarkan nir berbakat, tidak bisa, nir pantas, dll.

Sesungguhnya berkesenian nir memerlukan kemampuan atau keterampilan spesifik, lantaran buat mengekspresikan inspirasi, gagasan dan perasaan sanggup dilakukan menggunakan sebebas-bebasnya. Tidak terdapat yg berhak buat menghakimi, menilai apakah karya seni kita cantik atau tidak. Kita harus berkesenian karena pada dalamnya adalah proses pertumbuhan, pematangan diri menggunakan mengekspresikan wangsit, gagasan, perasaan yg terdapat pada pada diri secara berkala. Tanpanya, manusia akan sebagai makhluk yg ?Kosong? Karena tidak bisa mengekspresikan dirinya.

David Ardes Setiady

Lahir di penghujung tahun 1984. Tertarik dengan tema pengembangan diri, menyadari memiliki sisi introvert yang cukup kuat. Menjejakkan kaki di Bandung sejak tahun 2003 untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Pernah belajar tentang hipnoterapi yang seutuhnya dipergunakan membantu orang-orang yang membutuhkan. Saat ini menjadi staff KAIL, secara khusus sebagai trainer Cara Berpikir Sistem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *