[JALAN-JALAN] Menengok Sanggar Waringin
By: Date: November 30, 2018 Categories: Uncategorized

Siang itu, bepergian menuju ke Jalan Stasiun Timur relatif menggerahkan sebetulnya. Matahari bersinar relatif terik ,mempertinggi temperatur di dalam Angkutan Umum Sadang Serang ? Stasiun Hall. Kurang lebih perjalanan sekitar 40 menit dari Pahlawan hingga sampai ke lokasi.

Ini pertama kalinya saya mengunjungi Sanggar Waringin, berbekal informasi dari teman di KAIL. Begitu sampai di tugu Kereta Api, saya berbelok menuju ke terminal angkutan umum  Stasiun Besar Bandung, di situlah lokasi Sanggar Waringin berada. Melihat bangunan dengan empat papan nama yang salah satunya sangat jelas bertuliskan “Rumah Baca Sanggar Waringin”. Sedangkan, papan nama yang lain bertuliskan : “Rumah Perlindungan Anak”, “SMK Kalam Bangsa 2”, “PKBM Citra Bangsa 4”.

Papan nama di depan bangunan Sanggar Waringin (dok. Kail)

Saat itu, Sanggar Waringin tampak lengang menggunakan beberapa anak-anak berusia sekitar lima tahun berkegiatan di sana. Ada seseorang anak lelaki yg bermain dengan komputer satu-satunya yang memang diperuntukkan bagi siapapun yg mau menggunakan. Ia tampak asyik bermain menggunakan permainan yang terpampang pada layar monitor. Sementara ada beberapa anak wanita yang menonton permainan tadi. Ketika mereka mulai bosan, mereka bergerak dan menciptakan kegiatan sendiri. Saya meneruskan langkah ke ruangan berikutnya & bertemu dengan Pak Ana Sumarna yang merupakan galat seseorang penggagas berdirinya Rumah Baca Sanggar Waringin.

Rumah Bagi Anak Jalanan

Bapak Ana Sumarna menceritakan tentang tempat tinggal ini & semangat yg menjiwai berdirinya tempat yg diperuntukkan bagi tumbuh kembang anak-anak pada kurang lebih Stasiun Besar Bandung, atau yg biasa dianggap menggunakan Stasiun Hall.

Tempat yang dikenal dengan nama Sanggar Waringin ini berdiri pada tahun 2010, melalui bantuan berbagai pihak yang diorganisir oleh Pak Ana. Ternyata, Sanggar Waringin bukan sekedar taman bacaan biasa. Terbukti dari  papan-papan nama yang  menunjukkan fungsi lain dari rumah tersebut. Di tempat ini, anak-anak jalanan dapat tidur di malam hari. Setiap malam, selalu ada  yang tidur di tempat itu. Menurut Pak Ana, setiap malam minggu, tempat itu ramai dan banyak yang menginap selepas bermain ataupun bercengkerama.

Mengapa anak jalanan?

Saya mah udah pengalaman hidup di jalan sejak 5 SD, jadi saya tahu gimana gak enaknya hidup di jalan. Anak-anak (di jalan) itu kan modalnya cuma modal nekat aja. Sok bayangin, mereka gak punya apa-apa, mau makan harus cari duit sendiri”

Begitulah penuturan Pak Ana menceritakan awal mula keprihatinan serta kepeduliannya kepada anak-anak jalanan.

?Bukan cuma makan, bila mau tidur, ya tidur aja pada mana bisa. Biasanya ya tidur di emperan atau pada pinggir jalan, isap asap knalpot. Hidup anak jalanan itu rentan sakit sebetulnya, akan tetapi diabaikan. Akhirnya mereka cara berpikirnya ya tentang hari ini aja, gimana caranya dapat duit buat bertahan hidup. Kalau seperti itu, nir akan ada perubahan dalam hayati mereka dan akhirnya terjebak di jalan. Makanya aku lalu mulai merogoh beberapa yang terdapat pada lebih kurang sini buat balik hayati menggunakan ?Benar?. Saya tawarin sekolah, tinggal sama aku . Akhirnya terbukti mampu berhasil juga, mereka mampu tanggal dari jalanan. Kemarin kami baru ngembaliin 2 orang ke kota berasal mereka. Anak-anak jalanan yg terdapat pada Bandung ini homogen-rata tiba menurut luar kota.?

Tutur istilah Pak Ana yang halus tentang kehidupan keras jalanan sungguh mengakibatkan cerita ini terdengar unik. Keras & halus berpadu mendeskripsikan sebuah potret kehidupan insan perkotaan. Rambut Pak Ana sudah memutih & dari guratan wajahnya, kita sanggup melihat kerasnya kehidupan yg telah dialami sang beliau.

Kegiatan Positif Bagi Warga Sekitar

Sanggar Waringin hadir tidak sekedar buat anak jalanan saja, namun pula buat masyarakat pada sekitar terminal . Di sini anak-anak menurut berbagai usia dan latar belakang famili bisa berkumpul, berinteraksi & saling mengembangkan pengetahuan serta keceriaan. Masyarakat kurang lebih jua bisa mendaftarkan anaknya buat bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Kalam Bangsa 2 atau mengikuti PKBM Citra Bangsa 4 yg pula adalah acara kerja sama dengan Yayasan Insan Abdi Bangsa Republik Indonesia (IABRI), yg didirikan sang Bapak Edi Nuryakin. Program kolaborasi ini nir dipungut biaya sama sekali, artinya siapapun sanggup mengikutinya dengan perdeo.

Di tempat ini, terdapat beberapa kegiatan rutin yang diperuntukkan bagi anak-anak. Ada les bahasa Inggris, membuat origami, dan kursus tari. Semuanya diselenggarakan pada hari Selasa dan Kamis pada jam 15.00 WIB. Les bahasa Inggris dilakukan di lantai dua yang merupakan atap shelter yang dimodifikasi menjadi tempat yang teduh untuk berkegiatan. Kegiatan membuat origami beberapa waktu terakhir dilakukan bersama dengan orang-orang Jepang yang merupakan kenalan dari Pak Ade, salah seorang pengurus Sanggar Waringin.

Tempat les bahasa Inggris di Sanggar Waringin

Ada pula kegiatan olahraga misalnya karate, taekwondo, dan sepak bola yg diselenggarakan di luar ruang. Karate & taekwondo bekerja sama dengan perguruan yg berada pada kurang lebih wilayah Stasiun Besar Bandung. Kegiatan olahraga ini dilaksanakan setiap hari Sabtu dan biasanya diikuti sang anak-anak yg lebih akbar.

Selain kegiatan-kegiatan tersebut, terkadang ada juga kegiatan lain yang diadakan atas inisiatif para relawan yang datang, seperti kegiatan Character Building yang diselenggarakan awal Mei kemarin.

Spanduk aktivitas Character Building Festival

Untuk saat ini, Sanggar Waringin belum memiliki kegiatan rutin harian untuk anak-anak yang datang dari pagi sampai  siang. Biasanya yang datang hanya bermain sesuai dengan kehendak hati mereka. Ada pun Kang Dian, yang setiap hari Senin sampai dengan Sabtu selalu berjaga di tempat tersebut, biasanya turut mengawasi dan membantu anak-anak yang datang. Namun peran utama Kang Dian sendiri adalah mengurus administrasi dan menginput data buku-buku yang ada di Sanggar Waringin.

Memang buat tenaga yang secara rutin mengelola Sanggar Waringin hanya ada 4 orang dan tidak semuanya dapat hadir setiap hari pada tempat ini.

Sebuah Metamorfosis : Berangkat dari Sejarah Kelam

Dari segi bangunan, rupanya Sanggar Waringin merupakan sebuah kreasi dari Ridwan Kamil yang juga adalah salah seorang pengurus Yayasan Wahana Karya Bhakti Pertiwi. Bangunan ini dulunya berupa bilik-bilik yang dipergunakan oleh berbagai kalangan dunia “hitam” dalam beraktivitas. Mulai dari para maling berbagi hasil curian, preman membagi jatah palakan, sampai pengguna narkoba nyimeng. Bilik-bilik ini terletak di shelter Terminal Stasiun Bandung, sebuah bangunan jaman Belanda yang biasanya difungsikan untuk menanti jemputan ataupun menurunkan penumpang sebelum masuk ke dalam stasiun. Di bawah sheltertersebutlah, Sanggar Waringin mendirikan bangunannya, mengubah bilik-bilik “kelam” menjadi penuh keceriaan anak-anak. Selain itu, atap shelter yang dipakai untuk kursus Bahasa Inggris juga terdapat kolam ikan yang dipelihara oleh Pak Ana. Kolam ini memanfaatkan desain bangunan yang memang terdapat cekungan.

Bila kita berjalan melewati Sanggar Waringin, kita akan menemui beberapa pedagang serta rumah makan yang berjualan sebelum akhirnya menemukan angkutan umum karena memang bersebelahan dengan Terminal Stasiun Besar Bandung. Shelter terminal yang memanjang dimanfaatkan oleh warga setempat menjadi tempat usaha dan tempat tinggal dengan membangun bilik papan. Ada yang membuka warung nasi tegal, menjual gorengan, warung kopi. Sementara bila berjalan ke sebelah kanan Sanggar Waringin, kita akan menemukan sebuah hotel dengan arsitektur Belanda, tampak cukup tua dan kurang terawat. Selain itu, jalanan terminal ini tidak diaspal sehingga ketika hujan akan berlumpur dan bau menyengat karena sampah basah akan bercampur dengan oksigen yang dihirup. Terminal Stasiun Besar Bandung menjadi persinggahan angkot-angkot  dan juga minibus yang melayani rute antar kota dalam provinsi.

Kehadiran Sanggar Waringin yg terletak persis pada samping terminal Stasiun Besar Bandung bagaikan oase yg meneduhkan bagi anak-anak. Jika melihat syarat terminal yang masih jauh dari kata nyaman, apalagi aman sebagai loka bermain anak, Sanggar Waringin memang menaruh ruang bermain yg layak buat anak-anak. Padahal bermain merupakan kegiatan yg penting buat tumbuh kembang anak, yang jika tidak terpenuhi akan sebagai dilema pada lalu hari.

Anak-anak di Sanggar Waringin

Buku-buku di Sanggar Waringin

Belajar komputer di Sanggar Waringin

Penutup

Bermain menggunakan anak-anak pada Sanggar Waringin, buat saya, penuh dengan keterkejutan atau boleh jua disebut ketakjuban. Mendengar istilah-istilah seperti ?Anj#ng? & ?G@blperseng?, keluar berdasarkan ekspresi anak-anak yang dituturkan kepada sahabat bermainnya adalah salah satu pemandangan yang relatif jamak dilihat di sini. Saya juga takjub mengamati seorang anak bernama Iki yg sanggup meminta temannya buat melakukan misalnya yg dia minta, mulai dari belajar membaca alfabet -huruf, mengembalikan kitab yang sudah dibaca, atau mengingatkan sahabat-temannya buat nir melakukan hal-hal yang telah dilarang. Usia Iki mungkin baru sekitar 4 tahun. Di sini, mungkin orang akan mengalami keterkejutan lantaran nir biasa melihat perilaku dan ungkap kata dari anak-anak yang berkegiatan pada Sanggar Waringin. Atau mungkin bersikap biasa-biasa saja karena mempunyai lingkungan yg mirip seperti pada Sanggar Waringin.

Untuk itulah, bagi Anda-anda yang memiliki waktu luang, Anda bisa mengisinya dengan bermain bersama anak-anak di Sanggar Waringin. Karena dengan bermain bersama anak-anak, kita turut membantu tumbuh kembang mereka, yang siapa tahu suatu hari nanti adalah calon pemimpin yang membawa perubahan lebih baik bagi negeri ini. Mari bermain ke Sanggar Waringin, Jalan Stasiun Selatan no. 29.

(David Ardes Setiady)

Penulis tertarik menggunakan tema pengembangan diri, menyadari mempunyai sisi introvert yg cukup kuat. Menjejakkan kaki di Bandung sejak tahun 2003 buat melanjutkan pendidikan pada Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Pernah belajar mengenai hipnoterapi yg seutuhnya dipergunakan membantu orang-orang yang membutuhkan. Saat ini menjadi staff KAIL, secara khusus menjadi trainer Cara Berpikir Sistem.

Penulis merupakan staff Kuncup Padang Ilalang (Kail) Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *