[MASALAH KITA] Aktivis Menghadapi Cermin Sosial
By: Date: December 1, 2018 Categories: Uncategorized

Nama saya, Novi. Selepas kuliah, orientasi aku sangat tidak selaras menggunakan apa yang saya lakukan sekarang. Selayaknya fresh graduate lainnya, orientasi hidup saya saat itu merupakan bekerja buat mendapatkan penghasilan sebanyak-banyaknya. Kebetulan pekerjaan yg tersedia ketika itu merupakan sebagai marketing sebuah perusahaan partikelir.

Tuntutan yang saya hadapi buat bertahan di pekerjaan tadi adalah aku wajib tampil menarik, seragam, rapi, teratur & tentunya profit. Pada awalnya saya melihat itu menjadi hal yg aku impikan dan seharusnya aku lakukan karena setiap perempuan seumuran aku & pada lingkungan aku , ya seperti itu.

Saya ingin belajar sebagai yang terbaik pada bidang saya, namun hasil yang saya dapatkan ternyata malah terbalik. Performance saya pada pekerjaan tidak pernah baik karena tuntutan pekerjaan & ekspektasi orang lain terhadap diri aku sangat bertolak belakang menggunakan pribadi saya. Puncaknya, aku menetapkan buat mencari memahami apa yang saya sukai, mulai berdasarkan buku-buku yang telah aku beli, film-film yg saya tonton, pengalaman menyenangkan yg pernah aku alami sewaktu kuliah juga teman-teman yang nyaman aku ajak berdiskusi.

Proses tersebut membantu saya membayangkan pekerjaan seperti apa yg diinginkan di pada hayati saya. Akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan (walaupun itu telah terlambat 2 tahun) yaitu menjadi seorang pekerja sosial. Menjadi pekerja sosial saat itu jauh dari kesan keren & menjanjikan prosperity, bahkan beberapa teman & keluarga tidak sepakat dalam awalnya. Tetapi restu & dukungan dalam akhirnya datang berdasarkan mereka karena terdapat perubahan pada diri saya. Saya nir memahami pastinya apa yang mereka lihat, tetapi perasaan yang saya rasakan waktu bekerja adalah lebih bersemangat, bahagia, kreatif, tenang, tanpa beban & punya tujuan. Mungkin pancaran misalnya itulah yg dalam akhirnya terpantul dari cermin aku sendiri buat melawan cermin sosial pada lingkungan terdekat saya.

Di dunia ini, Anda dapat menemukan poly kisah seperti Novi.

Ketika kecil kita hayati dari harapan-asa orang tua kita. Saat remaja kita hayati dari harapan-asa kawan-kawan kita. Saat dewasa, kita hayati berdasarkan asa-asa pasangan kita. Di warga kita hidup mengikuti tuntutan-tuntutan warga yg memiliki perspektif eksklusif tentang apa yang disebut berhasil dan apa yang disebut baik. Masalahnya apakah yang diklaim berhasil & baik sang semua entitas pada luar diri kita sesuai menggunakan cita-cita-harapan terdalam kita? Apakah memenuhi tuntutan-tuntutan menurut luar & memperoleh status ?Orang yg sukses? Membuat kita benar-sahih senang , hidup penuh dan bermakna? Apakah kita mau terus hayati di pada cermin sosial?

Apa sih definisi cermin sosial?

Stephen Covey dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People”,   memperkenalkan konsep proaktivitas. Menurut Covey, proaktivitas berarti bertanggung jawab penuh akan hidup kita sendiri. Bertanggung jawab berarti siap mengambil konsekuensi dari pilihan-pilihan hidup kita. Dan pilihan hidup tersebut haruslah didasarkan pada keempat anugerah kodrati, yaitu imajinasi, kesadaran diri, kehendak bebas dan suara hati.

Jika mengikuti definisi tersebut, maka, hayati pada cermin sosial berarti, hidup yang dijalani nir menggunakan pemberian kodrati kita sendiri. Kita nir menggunakan seluruh imajinasi, pencerahan diri, kehendak bebas dan bunyi hati kita. Hidup kita ditentukan sang kehendak orang lain, menjadi upaya memenuhi asa-harapan orang lain, atau lantaran terpaksa, atau nir sesuai dengan bunyi hati kita.

Apa sih resiko hayati dalam cermin sosial?

Sebetulnya, yang paling tahu apakah kita hidup menurut cermin sosial atau tidak adalah diri kita sendiri. Apabila kita mengalami pertarungan batin yg tertuang dalam aneka macam perasaan negatif misalnya rasa jenuh,capek, ndeso, malas, tidak kreatif (pikiran mentok), muak lantaran menjalani rutinitas tanpa nilai apapun, atau perasaan bersalah lantaran terpaksa melakukan berbagai hal yang tidak sinkron dengan diri sejati kita; ada kemungkinan hayati kita sudah ditentukan sang cermin sosial. Kita merasa nir puas terhadap hidup kita sendiri.

Mereka yg hidup pada cermin sosial acapkali justru merupakan orang-orang yg ditinjau sukses di dalam rakyat. Di dalam kesuksesannya, mereka justru tidak merasa puas atau merasa galat pada dalam hayati mereka. Jika kita mengalami hal-hal semacam ini, kemungkinan kita mulai menyadari bahwa hidup kita belumlah seperti yang benar-benar kita inginkan.

Apakah resiko melepaskan cermin sosial dan hayati dari cita-cita-keinginan terdalam kita?

Merujuk dalam Covey, melepaskan cermin sosial berarti hayati dalam proaktivitas. Hidup agresif berarti merogoh pilihan dengan kehendak bebas. Kita akan menerima konsekuensi pilihan tersebut menggunakan gembira & lapang dada. Hidupku merupakan pilihan yang kupilih sendiri. Pilihanku tidak tergantung menurut pendapat orang tuaku. Pilihanku nir dipengaruhi oleh anakku, pasanganku, kawanku atau tetanggaku. Aku mengambil pilihan karena aku sungguh-benar-benar menginginkannya.

Pilihan-pilihan bebas yg diambil tadi pula berdasarkan pada kesadaran diri yang tinggi. Aku memahami yg aku mau, saya tahu apa yang aku cari, bukan saya merasa aku mencari sesuatu karena seseorang menganggapku baik buat itu. Aku mengenal diriku sendiri menggunakan baik, termasuk asa-harapan terdalam dan impian-impianku terhadap hidupku ini.

Kesadaran diri yg tinggi bisa diasah dengan melatih diri buat selalu mendengarkan bunyi hati kita sendiri, mengenali panggilan-panggilan jiwa kita, dan cita-cita-hasrat terdalam kita. Dan yg terakhir pilihan proaktif tentu berdasarkan dalam khayalan maksimal tentang apa yang mungkin terjadi dampak pilihan-pilihan kita. Resiko melepaskan cermin sosial adalah mungkin kita akan kehilangan cap sukses pada mata orang lain yang mempunyai tuntutan/citra/asa tertentu terhadap hidup kita, tetapi kita akan merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Kita mungkin dianggap menjadi orang yg aneh, keras kepala, atau tidak mau dari dalam orang tua atau anggaran masyarakat. Kita mungkin akan merasa telah mengecewakan orang-orang yang kita cintai.

Jurus-jurus keluar dari Cermin Sosial

Ada resiko-resiko yang harus kita tanggung ketika kita hidup dalam cermin sosial .  Jika kamu saat ini sedang berada dalam cermin sosial dan ingin melepaskan diri darinya, berikut ini adalah jurus-jurus yang perlu kita lakukan

1.    Kenali Dirimu yang Sejati dan Impian-impian terdalammu

2.    Jujur kepada diri sendiri dan kepada orang lain

3.    Ungkapkan dirimu dan impian-impianmu dengan jujur

4.    Konsisten dengan apa yang sudah dipilih

5.    Siap menghadapi konsekuensi pilihan hidup kita

Hidup menggunakan cermin sosial ataupun tidak merupakan pilihan. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Nah, kini , kita ingin hidup kita misalnya apa?

***

 (Any Sulistyowati & Anggraeni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *