[PIKIR] Belajar dari Pengalaman Pahit, Mungkinkah?
By: Date: December 2, 2018 Categories: Uncategorized

Ketika tsunami di Aceh terjadi pada tahun 2004,  seorang teman saya kehilangan seluruh keluarganya. Dia sedang menuntut ilmu di pulau Jawa sehingga tidak mengalami diterjang tsunami. Tetapi semua orang yang dikasihinya, khususnya sang Ibu meninggal dunia. Teman saya itu sangat dekat dengan ibunya. Saya masih ingat betapa keras teriakannya saat mendengar kabar duka tersebut. “Saya ingin ibu saya kembali!”

Cerita pada atas hanya keliru satu model berdasarkan pengalaman pahit seseorang. Setiap orang niscaya pernah mengalami pengalaman getir meski menggunakan cara yg tidak sama.

Mengalami bencana alam, mengalami kekerasan psikis maupun fisik, kekurangan uang, melihat orang yg dikasihi jatuh sakit, kehilangan orang yg dikasihi, dikhianati, patah hati, kelaparan, diperlakukan tidak adil, digusur berdasarkan tempat tinggalnya, sakit, dikhianati, keluarga pecah, gagal, diabaikan, tidak dihargai, & lain-lain. Semuanya pengalaman pahit.

Pengalaman getir adalah hal yang sangat menyebalkan. Rasanya sakit & nir pernah mudah buat dilalui. Kadang butuh saat yg sangat usang buat menyembuhkan rasa sakit yg terdapat. Dan tidak seluruh orang bisa melewatinya.

Apakah seseorang bisa belajar dari pengalaman pahit? Ozlem Ayduk, seorang ahli psikologi dari Universitas California, Berkeley menyatakan bahwa ada beberapa orang yang berhasil belajar dari pengalaman pahit dan beberapa orang yang tidak[1]. Menurutnya, salah satu cara untuk bisa belajar dari pengalaman pahit adalah dengan mengambil jarak dari perasaan kita terhadap pengalaman pahit tersebut. Dalam penelitiannya, Ayduk dan Kross meminta sejumlah orang untuk membayangkan pengalaman pahitnya. Satu kelompok diminta melihat pengalaman tersebut dari dari kacamatanya sendiri sedangkan yang lain diminta membayangkan pengalaman pahitnya dari kacamata seekor lalat yang melihat pengalaman tersebut.

Ternyata, kelompok ke 2 lebih mampu menganalisis pengalaman getir mereka secara lebih konstruktif sehingga mampu mengambil pelajaran berdasarkan pengalaman pahit tadi. Jadi, buat mampu belajar menurut pengalaman getir, keliru satu hal yang wajib dilakukan merupakan mencoba berjarak terhadap perasaan kita terkait pengalaman tersebut. Tapi, bagaimana caranya? Memangnya mudah? Dari pengalaman sendiri, aku sanggup mengungkapkan bahwa buat bisa berjarak terhadap pengalaman getir bukan masalah gampang. Kadang kita membutuhkan donasi orang lain buat bisa melakukannya.

Perlunya Supporting System

Tahun 2007 saya berada dalam keadaan yang tidak baik karena mengalami beberapa masalah. Tak lama kemudian saya diajak untuk mengikuti support group visi dan misi pribadi yang diselenggarakan oleh KAIL. Salah satu kegiatannya adalah saya dan peserta lain (hanya ber-5) diminta untuk menggambarkan sungai kehidupan masing-masing. Sungai kehidupan adalah sebuah gambar yang merepresentasikan titik-titik penting dalam hidup kita. Hal ini berarti kita perlu mengingat pengalaman baik yang menyenangkan maupun pahit yang menjadikan diri kita seperti sekarang ini. Setelah menggambar, masing-masing peserta diminta bergantian menceritakan sungai kehidupannya. Peserta yang lain harus mendengarkan dan bisa mengajukan pertanyaan.

Proses tersebut memungkinkan saya untuk mengingat kembali pengalaman pahit saya, memvisualisasikannya, menceritakannya kembali, dan menjawab pertanyaan orang lain tentang pengalaman pahit tersebut. Ternyata proses itu memungkinkan saya belajar dari pengalaman pahit saya. Saya belajar bahwa diri saya yang sekarang tidak terlepas dari pengalaman yang saya alami di masa lalu, yang baik maupun yang buruk. Meskipun tidak selalu, beberapa isu yang saya pedulikan beririsan dengan pengalaman pahit saya sendiri. Misalnya, saya pernah mengalami bullying.Hal ini membuat saya cukup peduli dengan isu bullying.

Bullying, asal : www.Crapmama.Com

Saya pula belajar bahwa pengalaman getir memungkinkan saya sanggup lebih tahu perasaan orang lain yang punya pengalaman sejenis. Pemahaman ini sangat berharga. Sebagai analoginya orang yang pernah terkena penggusuran pasti lebih mudah memahami orang yg jua pernah terkena penggusuran. Pemahaman ini akan sangat membantu, misalnya saat beliau mau menciptakan gerakan buat mendukung orang-orang yg terkena penggusuran.

Sekarang, saya bisa menuliskan segalanya tentang pengalaman pahit saya. Tapi bertahun-tahun yang lalu, mungkin saya tidak bisa melakukannya. Mungkin saya hanya bisa merasakan sakitnya tanpa bisa belajar darinya. Saya beruntung karena dengan mengikuti suport group visi dan misi KAIL, ada sebuah sistem yang memungkinkan saya bisa lebih mudah belajar dan berefleksi dari pengalaman pahit saya.

Belajar dari pengalaman pahit bukanlah hal yang mudah. Sebuah pengalaman pahit bisa terjadi jauh sebelum hari ini, misalnya belasan tahun yang lalu tetapi rasa sakitnya masih terasa hari ini. Enid Vazquez, seorang konselor HIV pernah mengatakan bahwa setiap orang membutuhkah support systematau sistem bantuan. Semakin berkualitas support system tersebut, kita akan menjadi lebih baik. Jadi, mari memperbanyak support system yang memungkinkan lebih banyak orang bisa menjadikan pengalaman pahitnya sebuah pelajaran yang berharga!

(Dhitta Puti Sarasvati, Associate Kail)

[1] http://www.huffingtonpost.com/wray-herbert/self-reflection_b_881461.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *